Senyum Ketegaran Itu Tetap Ada

(SH/ Muniroh)
Keluarga korban mengikhlaskan perpisahan tersebut.

Bulir-bulir air mata mengalir deras dari mata keluarga korban Sukhoi Superjet 100. Pilu dan perih karena rasa kehilangan orang-orang tercinta menjadi warna kelabu di tengah cerah langit di atas Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (22/5) siang.

Isak tangis bergema memenuhi pelataran rumah sakit itu setelah sejumlah keluarga menemui jasad korban yang telah diletakkan dalam peti-peti jenazah berwarna hitam kecokelatan.

Bahkan, di antara mereka ada yang tidak mampu mengucap sepatah kata pun. Seorang ibu berkerudung cokelat dengan tergopoh pelan berjalan didampingi sejumlah kerabat dengan tangis tiada henti setelah melihat jenazah putrinya, Anggraeni Fitria, pramugari Sky Aviation.

Tidak banyak kata terucap dari bibirnya yang mungkin telah membeku dibalut pilu. Ia hanya terisak sambil menyebut nama Tuhan berulang-ulang. “Ya Allah, ya Allah,” ia berseru beberapa kali. Kata-kata itu seperti menjadi satu-satunya kekuatan yang bisa ia dapatkan. Oleh karena itu, meski sesenggukan, perempuan bernama Efrina ini terus tidak henti menyebut dan memanggil nama Sang Pencipta.

Efrina bukanlah satu-satunya ibu yang tersayat hatinya karena ditinggal pergi kerabat tercinta. Banyak ibu, ataupun ayah, kakak, adik, anak, kekasih, dan sahabat yang menangisi kehilangan orang yang sangat dekat. Raungan kepedihan yang tertumpah lewat tangis air mata pun penuh sesak mengisi ruang tunggu keluarga di Rumah Sakit milik Polri tersebut. Namun, di antara mereka yang terluka dan tersungkur pedih, beberapa senyuman juga terlihat mengukir pipi-pipi yang basah oleh air mata.

Senyuman itu adalah milik mereka yang menangis tetapi tidak membiarkan kepedihan membelenggu dan membuat mereka terpuruk terlalu dalam. Senyuman itu adalah senyuman ketegaran, keikhlasan, dan kekuatan yang tersembul dari dalam hati yang luka. Kekuatan dan ketegaran itu salah satunya dimiliki orang tua dari Susana Famela Rompas, yang juga korban kecelakaan maut pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Jawa Barat, Rabu (9/5) lalu.

Menurut ayahanda Susana, Terry Rompas, ia sempat melihat jasad putri tercintanya itu di dalam peti jenazah. Ia mengaku jasad itu tidak bisa dijelaskan lagi kondisinya seperti apa. Kendati begitu, ia sangat merasa dekat dengan jasad itu, dan sangat merasa yakin bahwa jasad yang tidak berbentuk itu adalah benar putrinya.

Dia menjelaskan, sesuai pakaian yang sebelumnya telah diberikan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI), di dalam peti itu jasad Susana tertutup dengan pakaian lengkap serta busana pengantin berwarna merah muda. Di bagian bawah peti tertata rapi sepatu berhak yang serasi dengan pakaian itu. “Pakaian sehari-harinya juga kami letakkan di dalam peti. Termasuk parfum dan sejumlah barang pribadi miliknya,” ujarnya pelan.

Ia mengakui keseluruhan pakaian dan perlengkapan itu hanya digunakan untuk menutupi jasad tersebut. Karena memang hampir tidak mungkin mengenakan pakaian kepada jasadnya. Meski begitu, Terry merasa dapat melihat di dalam batinnya bahwa Susana masih secantik seperti biasanya. “Di dalam hati ini dia masih secantik seperti terakhir saya mengingat dia. Dia memang putri saya,” ucap Terry dengan menyentuh pelan dadanya.

Menyimpan Kenangan

Ia menceritakan betapa banyak kenangan yang terukir bersama putri bungsunya itu. Bahkan ia mengatakan, 16 Mei adalah hari ulang tahun Susana. Oleh karena itu, Susana sudah membeli tiket untuk terbang ke Filipina guna merayakan ulang tahunnya di sana. “Seharusnya setelah dia pulang dari Filipina kami mau berangkat sama-sama ke Hong Kong,” ucapnya lagi.

Terry Rompas sempat hening sejenak sambil tertunduk dan menyentuh kelopak matanya dengan jari. Tersembul bulir kecir air mata dari ujung kelopak mata itu, namun dengan sigap ia meyakinkan bahwa kenangan bukanlah sebuah cambuk yang harus menjadi luka. Ia pun begitu yakin bahwa perpisahan itu hanya sementara, dan karena itu tidak ada alasan lagi baginya untuk terlalu bersedih. “Saya yakin, bahwa saya suatu saat akan bertemu lagi dengannya,” tuturnya dengan sedikit senyuman.

Ia menuturkan bahwa setiap manusia memegang tiket keberangkatan masing-masing, dan setiap manusia hanya menunggu kapan akan berangkat. Satu hal yang sangat diyakininya, tubuh manusia tidaklah penting, karena bukan tubuh itu yang kembali menghadap Sang Pencipta. Baginya, tubuh jasmaniah akan kembali menjadi debu, dan roh yang berasal dari Tuhan akan kembali pada Tuhan.

Meski mengaku tegar dan ikhlas, ia tidak dapat menafikan bahwa rasa kehilangan itu tetap ada. Terlebih baginya, Susana tidak akan pernah terganti oleh harta apa pun dan oleh siapa pun. Oleh karena itu, cara terbaik yang dilakukan ia dan anggota keluarga lainnya adalah tetap rela dan ikhlas atas kepergian Susana. “Kami anggap dia berangkat dan pergi seperti kebiasaannya dia, dengan pakaian sehari-hari dan barang-barang favoritnya dia. Kami ucapkan selamat jalan, Susana,” ucapnya, dengan aliran kecil air mata di pipinya.

Ketegaran dan rasa ikhlas pun dimiliki Thomas Irawan Sihombing. Kakak tertua dari Kornel Sihombing ini pun sempat melihat sekilas jasad adiknya saat peti jenazah dibukakan. Ia mengaku tidak melihat tubuh adiknya utuh. Bahkan ia berujar tidak sempat membuka penutup di bagian wajahnya. “Karena jasad yang tidak berbentuk itu ditutupi jas hitam,” ujarnya.

Ia mengemukakan, keluarga yang saat itu melihat ke dalam peti jenazah, enggan membuka lebar penutup jasadnya. Ini karenam menurutnya, saat itu keluarga hanya sanggup melihat sekilas saja. “Kami nggak mau buka, karena kekuatan kami sampai di situ saja,” tuturnya. Satu hal yang diyakininya, seperti apa pun jasad yang dilihatnya, jasad itu hanya benda mati. Karena jiwa Kornel Sihombing telah berangkat menghadap Pencipta. “Karena itu meskipun saya memang sedih, saya tegar dan ikhlas atas keberangkatan adik saya,” tuturnya.

Sumber : Sinar Harapan/ Jenda Munthe

Berharap Masih Ada Keajaiban

Keluarga penumpang Sukhoi Superjet 100 RA-36801 berharap diberi mukjizat oleh Tuhan.

Suasana di ruang tunggu kedatangan Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, kian sesak. Selain dipenuhi keluarga penumpang pesawat Sukhoi Superjet (SSJ) 100 RA-36801, ruangan pun dipadati para wartawan yang giat mencari informasi terkait pesawat yang jatuh di kawasan Gunung Salak, Jawa Barat itu.

Bukan lantaran padatnya orang yang membuat ruangan itu terasa sesak, melainkan wajah-wajah resah dan gundah karena menanti kabar pasti tentang keberadaan orang tercinta yang menjadi penumpang pesawat itu.

Keresahan mereka terekspresikan dalam tangis lirih yang terus mengalir, namun ada juga yang berteriak histeris. Jumlah mereka terus bertambah. Setiap beberapa menit orang-orang datang dan memeriksa daftar nama penumpang yang terpampang di bagian depan ruangan. Setelah itu kesedihan semakin menjalari banyak orang.

Sementara itu, yang lain berkumpul untuk mendengarkan radio yang menyiarkan kondisi terkini terkait nasib pesawat serta para penumpangnya, juga melihat televisi yang menayangkan gambar lokasi ditemukannya bangkai pesawat yang telah berkeping-keping.

Nia, istri salah seorang penumpang pesawat bernama Fazal Achmad, Direktur Operasi Indo Asia, mengatakan tetap berharap ada keajaiban keselamatan yang menimpa suaminya. “Saya mau dia kembali. Walaupun dia luka atau cacat tak apa, asalkan dia selamat,” ujarnya lirih.

Nia menceritakan, komunikasi terakhir mereka pada Rabu (9/5) sore sesaat sebelum Fazal ikut joy flight pesawat Sukhoi itu, lewat pesan di BlackBerry Messenger (BBM). “Di situ dia bilang akan ikut tes flight dengan Sukhoi selama 25 menit. Lalu saya jawab pengen ikut. Dia balas dengan pasang ikon senyum,” ucapnya. Setelah itu Nia sempat menanyakan kapan Fazal pulang, namun sejak itulah tak ada balasan dari sang belahan jiwa. “Saya kira saat itu BB dimatikan karena dia sudah di dalam pesawat,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Sesaat sebelum Fazal berangkat kerja, Nia sangat ingin menghampiri suaminya sekali lagi. “Begitu dengar bunyi pagar, saya benar-benar ingin keluar, ingin lihat dia lagi,” ia menambahkan. Bahkan, Nia berharap dapat bertukar posisi dengan suaminya. Namun, ia juga mempertanyakan mengapa pilot pesawat Sukhoi tersebut orang Rusia yang menurutnya tidak mengetahui medan jalur udara di Indonesia.

Prioritaskan Evakuasi

Kesedihan yang dialami Nia juga tergambar dalam raut wajah keluarga Didik Nur Yusuf. Pewarta foto Majalah Angkasa ini diketahui menumpang pesawat Sukhoi tersebut. Keluarga mempertanyakan mengapa Didik turut dalam penerbangan itu, karena sebelumnya hanya pamit ke bandara dan tidak ada rencana naik pesawat tersebut.

Putra tunggal Didik, Abdul Haris Dirgantara, mengaku pada malam sebelum kejadian sempat berbicara dengan ayahnya. “Tapi, di situ papa nggak bilang mau ikut uji coba dan ikut terbang,” ucap lelaki berusia 14 tahun ini. Karena itulah keluarga sempat tidak mengetahui kalau Didik menjadi salah satu penumpang. Kabar baru diketahui dari pemberitaan televisi. “Kami semua cemas dan khawatir. Karena itu kami butuh kejelasan bagaimana nasib para penumpang di sana,” katanya.

Kegundahan yang menimpa Nia, Haris dan keluarga penumpang lain, masih harus dipendam karena proses evakuasi masih terhalang buruknya cuaca sehingga baru bisa dilakukan, Jumat (11/5) pagi. Pada Kamis (10/5) petang seluruh keluarga diminta pulang ke rumah dan kembali lagi hari ini setelah proses evakuasi dilakukan.

Tertundanya evakuasi disesalkan seorang pria bernama Palma. Sebagai saudara Raymond Sukamto, salah seorang staf Sky Air yang turut di dalam penerbangan nahas itu, ia sangat berharap evakuasi didahulukan. Semestinya tim penyelamat dapat segera melakukan evakuasi dan memastikan apa ada penumpang yang masih dapat ditolong. “Kalau berlarut-larut, mereka yang mungkin selamat bisa saja tewas karena terlambatnya pertolongan,” ucap Palma.

Harapan bahwa ada penumpang yang selamat juga dituturkan Izmirta Rachman. Meski mengaku pasrah, saudara kandung Donardi Rachman ini menyebutkan kini keluarganya masih menantikan kabar gembira bahwa kakaknya selamat dari musibah. Ia menyayangkan pihak penyelenggara yang tidak bekerja secara profesional dalam mendata para penumpang.

“Kita sempat dibuat bingung apakah benar keluarga kita ada di sana. Sekarang kita juga bingung bagaimana nasib terakhir abang kita,” ujarnya. Meski begitu, Izmirta berpendapat saat ini yang terpenting adalah menemukan kakaknya dan membawa kembali ke Jakarta.

Anggi Sang Pramugari

Peristiwa jatuhnya pesawat SSJ 100 di sekitar Gunung Salak Bogor, Rabu, ikut menorehkan duka bagi warga Sulawesi Utara (Sulut). Anggrainy Soepredjo yang tercatat sebagai warga Kelurahan Wenang Selatan, Kecamatan Wenang Lingkungan IV Kota Manado merupakan salah satu penumpangnya. Anggi, sapaan akrabnya, adalah pramugari Sky Aviation.

Wanita cantik berusia 26 tahun itu merupakan istri Andre Buchari anak mantan Wakil Wali Kota Manado, Abdi Buchari. Lisa Buchari, adik ipar Anggi, tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Kamis, terlihat jelas Lisa sedang menangis. “Iya, Anggi itu istri kakak saya,” ungkap Lisa, sambil mengatakan status terakhir Anggi di BBM tertulis “With Sukhoi 100″.

Sesekali wawancara terhenti karena tangisan Lisa kian menjadi. Ketika ditanya dari mana informasi tersebut, Lisa mengaku datang dari sang kakak. “Andre menelepon tadi malam, bilang kalau Anggi mengalami kecelakaan pesawat,” tuturnya. Tak cuma Lisa, Rosmawati Nasaru, ibunya yang juga mertua Anggi ikut menangis. “Saya terakhir bertemu dengan Anggi beberapa bulan lalu. Saat itu ia datang ke Manado karena anaknya sakit,” ujar Lisa terbata-bata.

Pertemuan yang singkat itu, menurut Lisa, cukup mengobati rindu karena lama tak bersua dengan Anggi. “Andre bilang, Anggi sebenarnya tidak ikut dengan pesawat itu. Tapi, tidak tahu mengapa jadi naik juga,” ujarnya.

Anggi cukup dekat dengannya. Lisa pada Rabu siang memutar sebuah video klip di mana modelnya adalah Anggi. “Sambil nonton, saya curhat ke suami kalau saya pernah bertengkar dengan Anggi. Tapi, karena orangnya baik, dia memaafkan saya. Kita berdua pernah bercita-cita duet bareng dan bikin konser,” tutur Lisa.

Di tempat terpisah, suami Anggi, Andre Buchari ketika dihubungi via HP belum bersedia menjelaskan panjang lebar mengenai peristiwa nahas itu. “Sori, saya sementara sibuk di Halim,” ucapnya. Terdengar jelas lewat tutur kata Andre, nada sedih. “Saya pertama kali diberi tahu soal kecelakaan ini oleh teman-teman Anggi di Bandara Halim, Rabu sore.

Mertua Anggi, Rosmawati Nasaru yang ditemui di rumah kediaman anak tertuanya di Kelurahan Malendeng Manado, juga tak bisa membendung tangisnya. Sesekali ia mengusap air mata sambil menatap foto Anggi di ponselnya. “Putra Anggi sekarang berumur 2 tahun enam bulan,” ujar Nasaru. Ia mengaku mendengar kabar itu pada Rabu sore sekitar pukul 18.00 Wita. “Saat itu, ada agenda rapat di kantor, tiba-tiba saya melihat dalam tas ada beberapa panggilan masuk dan SMS dari anak saya Andre,” ungkap Nasaru yang sehari-hari sebagai anggota DPRD Sulut itu.

Saat itu juga, dia langsung gemetar dan meninggalkan ruang rapat, lalu bergegas menghubungi keluarga di rumah. Anggi adalah anak dari pasangan Sudjono Supredjo dan Evrina Mokoginta. Dari perkawinannya dengan Andre, Anggi memiliki seorang anak bernama Autly Sahwan Buchari.

Anggi, perempuan bertubuh tinggi semampai ini pernah bersekolah di SMPN 2 Manado, dan melanjutkan ke SMAN 3 Manado. Setelah lulus tahun 2004 ia langsung bekerja sebagai pramugari Lion Air sekitar dua tahun, lalu pindah ke Expres Air, selanjutnya pada 2011 pindah ke Sky Air

Sumber : Sinar Harapan (Jenda Munthe/Novie Waladow)

Di Tangan Ayah Kandung, Kaysa Tewas Mengenaskan

Ayahnya sempat mencium anaknya yang bersimbah darah dan tak bernyawa lagi.

Sering kali ketika orang tua bersiteru anak yang menjadi korban. Tampaknya hal itu yang dialami oleh Kaysa Ivanna Salsabila. Balita berusia tiga tahun ini tewas mengenaskan di tangan ayah kandungnya sendiri.

Ia mengalami luka bacokan di bagian leher setelah sang ayah, Ivan Reza Pahlevi, tiga kali menghujamkan celurit ke bagian lehernya. Kaysa pun tewas di atas ranjang di rumah sang ayah di Jl PKP RT 008/08, Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu (25/8).

Tindakan gelap mata sang ayah terjadi sekitar pukul 21.00, ketika Kaysa tengah bermain bersama sang ayah di atas tempat tidur. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba sang ayah menghujamkan celurit yang telah disediakannya ke leher kiri Kaysa. Pada bacokan pertama korban sempat berteriak “Papa, Papa” sambil merintih kesakitan.

Anehnya, melihat sang anak berteriak dan merintih, bukannya menghentikan aksi tersebut, pria berusia 32 tahun ini justru melayangkan celurit tersebut ke leher kanan korban, kemudian ke bagian belakang kuping kanannya.

Melihat Kaysa tak lagi bernyawa, Ivan sempat mencium kedua pipi anaknya yang saat itu bersimbah darah karena luka bacokan berada persis di bagian lehernya. “Korban mendapat tiga kali bacokan di bagian lehernya,” ujar Kapolsek Ciracas, Komisaris Polisi Senen.

Usai melakukan aksinya, Ivan memberitahukan tindakannya itu kepada ibunya, Siti Fatonah. Nenek berusia 60 tahun ini awalnya tidak percaya, ia pun mengecek ke dalam kamar dan menyaksikan korban dalam keadaan tidak bernyawa dan bersimbah darah.

Menurut Senen, begitu menemukan cucunya dalam keadaan mengenaskan, sang nenek berteriak histeris hingga anggota keluarga lain datang dan mengikat Ivan agar tidak melarikan diri.

“Usai kejadian, keluarga pelaku langsung menangkap dan mengikatnya agar tidak kabur hingga petugas kita datang,” kata Senen.

Ia menambahkan, saat ini pelaku sudah diamankan di Polsek Ciracas untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kini pihaknya masih melakukan pemeriksaan guna mengetahui motif pelaku hingga tega membunuh anak kandungnya.

Berdasarkan informasi di lapangan, tindakan Ivan menghabisi putri bungsunya itu dilakukan lantaran ia kesal kepada mantan istrinya yang akan menikah lagi. Sepupu korban, Iwan Ridwan (45), mengatakan bahwa Ivan telah bercerai dengan istrinya Nurbaeti (29), tiga tahun lalu.

Baru-baru ini, ia mendapat kabar bahwa dua bulan lagi mantan istrinya akan menikah. “Katanya dia cemburu karena mantan istrinya akan menikah lagi,” ujar Iwan saat ditemui di polsek Ciracas, Minggu (26/8).

Salah seorang tetangga korban yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa setelah Ivan dan istrinya berpisah, kedua anaknya tinggal terpisah.

Anak pertama, Nayla yang berusia lima tahun tinggal bersama pelaku, sedangkan anak keduanya, Kaysa tinggal bersama sang ibu di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan. “Nah biasanya tiga hari sekali anaknya yang kecil datang untuk bermain,” ungkapnya.

Iwan menambahkan, sebagian besar tetangga tidak percaya dengan tindakan Ivan, mengingat selama ini ia dikenal baik oleh para tetangga. “Dia sebenarnya baik, tapi memang dua bulan terakhir agak aneh. Dia lebih sering mengurung diri di kamar,” ungkapnya lagi.

Terkait peristiwa tersebut, Sekjen Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), Syamsul Ridwan mengatakan, peristiwa yang dialami Kaysa sering terjadi. Menurutnya, dalam sebuah perseteruan suami dan istri, anak-anak sering kali menjadi korban utama.

Ia memaparkan, berdasarkan catatan tahun 2011, dari sekitar 2.700 kasus kekerasan terhadap anak, sekitar 55 persennya disebabkan konflik rumah tangga. “Catatan ini sangat besar dan sering terjadi dari tahun ke tahun,” jelasnya.

Syamsul berujar, untuk meredam kasus seperti ini semestinya lembaga konsultasi keluarga yang bernaung di bawah Kementerian Sosial dapat berfungsi lebih optimal memberikan penyuluhan dan pembinaan kepada keluarga, khususnya mereka yang memiliki masalah seperti pertikaian dan perceraian. “Sayangnya lembaga ini kurang berfungsi optimal sehingga anak terus yang menjadi korban,” ucapnya.

Ia menambahkan, selain kurang optimalnya fungsi lembaga keluarga, sosialisasi oleh pemerintah terhadap keberadaan lembaga tersebut sangat minim. Karena itu banyak masyarakat yang tidak mengetahui keberadaan lembaga tersebut.

Selain itu, kata dia, baik sang ayah maupun ibu semestinya menyadari bahwa dalam perseteruan, anak selalu menjadi korban. Karena itu, setiap orang tua harus berupaya semaksimal mungkin mengatasi konflik rumah tangga tanpa mengorbankan anak.

Upaya pertama yang harus dilakukan adalah mengorbankan ego masing-masing ketika terjadi perseteruan.

“Selalu ingatlah ada anak di tengah-tengah keluarga yang harus dipertahankan. Satu lagi perlu dipahami, bahwa meskipun orang tua berpisah, anak tetaplah milik keduanya dan memiliki keduanya tanpa terpisah. Anak berhak atas kedua orang tuanya. Hal ini harus dipahami setiap orang tua,” ujar Syamsul.

Sumber : Sinar Harapan/ Jenda Munthe

Anak Jalanan Potret Kemiskinan

(SH/Jenda Munte)Pemerintah seolah tak mampu memberikan solusi terhadap anak jalanan dan selalu mengutamakan penertiban.

Anak jalanan. Demikain mereka disebut karena hidup di jalanan. Usia mereka masih anak-anak, termasuk usia anak wajib belajar pendidikan dasar (wajardikdas) sembilan tahun, yakni SD hingga SMP.

Kehidupan mereka sepanjang hari ada di jalanan dengan berbagai aktivitas, di antaranya pengamen, pengemis, dan pemulung.

Debu-debu jalanan bercampur pekatnya asap knalpot kendaraan tidak masalah bagi mereka. Di antara riuh bising itu, menyembul suara lantang namun samar dari bibir mungil bocah-bocah jalanan.

Raut wajah mereka tanpa beban, tetap bernyanyi meski para pengendara tetap abai akan mereka. Tetap tersenyum, sedikit mengiba, dan melanjutkan bait lagu yang tidak beraturan, meski orang-orang di sekitarnya berpura-pura tak melihat dan mendengar mereka.

Anti (7), seorang di antara anak jalanan, duduk di bahu jalan begitu lampu merah berganti hijau, sementara beberapa temannya sibuk menghitung kepingan koin di tangan mereka. Anti hanya diam sambil mengusap-usap debu tebal di pipinya.

Bocah kecil ini mengaku sudah lama berada di perempatan jalan. “Di sini ya nyanyi-nyanyi, nunggu ada kakak atau om yang kasih duit,” ujarnya lugu. Ia sebenarnya, ingin seperti anak-anak lainnya, mengisi hari-hari dengan bermain, belajar bersama temannya.

Anti mengaku sekolah di sebuah yayasan sosial. Anti merasa membutuhkan kehidupan yang layak dan lebih baik dari apa yang ia jalani kini. Namun keadaan ekonomi keluarganya tidak cukup menghantarkannya pada mimpi indahnya.

Saat ini satu-satunya kesenangan miliknya adalah teman sebayanya yang juga mengais rupiah di antara debu-debu jalanan. Ia bercita-cita menjadi guru agar dapat bisa mengajari anak-anak kecil seperti nya. “Biar semuanya bisa sekolah,” ucap Anti.

Nanda, anak jalanan lainnya berada di jalan memiliki kisah yang lebih mengharukan. Di usianya yang baru delapan tahun, ia menjalani rutinitas hariannya tanpa beban meski ia tengah berpuasa.

Nanda tetap bernyanyi, lalu berjalan dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya untuk mengharap belas kasihan orang. Meski banyak yang mengacuhkannya, Nanda tetap melakukan apa yang biasa dilakukannya, yakni tersenyum.

“Kalau nggak dikasih, ya nggak apa-apa, tinggal pindah ke motor atau mobil yang lain,” kata Nanda. Setelah beristirahat sejenak, ia kembali melangkahkan ke arah kendaraan yang berhenti. Ia kembali mengayunkan alat musiknya yang terbuat dari botol plastik berisi beras. Ia tetap bernyanyi tak ada yang peduli dan memberikan rupiah padanya.

Kali ini ia menepi jauh dari jalan, duduk di taman sambil menghitung receh dari tas kecilnya. “Aku haus kak. Tenggorokan juga kering nyanyi terus dari tadi. Ini jam berapa ya, udah buka belum,” tanya Nanda sambil memegangi perutnya. Ia mengaku sudah berada di lampu merah itu sejak pukul 12.00 WIB siang, menahan lapar dan dahaga sambil terus bernyanyi.

Sama seperti Anti, Nanda sangat berharap dapat menjalankan ibadah puasanya sambil sedikit bersantai di rumah. Namun seolah tak dapat memilih, ia tetap harus turun ke jalanan mencari rupiah. Hal ini dilakukannya untuk membantu pemasukan ekonomi keluarganya. “Ya kan lumayan uangnya buat dikasih ke adik, terus nambah-nambah uang jajan juga di sekolah,” kata Nanda.

Apa yang dialami Anti dan Nanda adalah sebagian kecil dari buruknya perhatian pemerintah kepada warganya, di mana persoalan kesejahteraan ekonomi menjadi alasan utama penyebab anak-anak turun ke jalan. Terlebih selama ini pemerintah seolah tak mampu memberikan solusi terhadap para anak jalanan, dan selalu mengutamakan penertiban anak jalanan ketimbang upaya-upaya lain yang lebih efektif.

Komnas Perlindungan Anak (PA) dalam pemaparan hasil kerjanya selama satu semester pada 2012, mengaku menemukan banyak kasus kekerasan terhadap anak.

Dari sekian banyak kekerasan yang terjadi terhadap anak, ternyata salah satu bentuk kekerasan yang sangat mungkin terjadi pada anak jalanan adalah penertiban dan razia oleh aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Hal itu diungkapkan Arist Merdeka Sirait, usai memberikan keterangan pers di kantor Komnas PA, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (23/7).

Selama ini, yang dikedepankan pemerintah menertibkan dan membawa anak jalanan mereka ke panti sosial. Menurutnya, hal ini sama sekali tidak memberikan solusi bagi anak jalanan, bahkan justru menjadi salah satu upaya kekerasan terhadap mereka. “Anak-anak itu dikejar, digaruk, itu saja sudah kekerasan.

Mereka lalu dibawa ke panti, dan diberikan sesuatu yang sebenarnya bukan kebutuhan mereka. Ini hanya kepentingan proyek saja, tidak ada dipikirkan bagaimana memberi jalan yang terbaik bagi anak-anak itu,” papar Arist kepada SH.

Mestinya, pemerintah mengatasi apa penyebab anak-anak itu turun ke jalan. Persoalan utamanya tetap kesejahteraan, di mana umumnya anak-anak jalanan itu berasal dari keluarga tidak mampu.

“Tidak ada seorang pun yang mau anaknya turun ke jalan, begitu juga dengan anak-anak. Ini semua kan karena keadaan,” kata dia. Selama pemerintah belum dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya, peluang bertambahnya anak jalanan tetap saja ada, Arist menambahkan.

Sumber : Sinar Harapan/ Jenda Munthe

”Saya Lapar di Negara Kaya Raya”

 

(SH/Jenda Munte)Kemerdekaan adalah milik orang kaya dan punya jabatan.

 

Indonesia, semenjak kemerdekaannya, terus menunjukkan kemajuan demi kemajuan. Tanahnya yang subur dan kaya akan hasil alam adalah karunia yang belum tentu dimiliki negara lain.

Begitu juga Jakarta sebagai ibu kota negara menunjukkan kemajuan pembangunannya dengan gedung-gedung pencakar langit.

Hasil alam, kemajuan pembangunan, dan segala yang dimiliki negeri ini adalah hasil jerih payah para pejuang dalam mempertahankan Indonesia dan mengantarkannya kepada kemerdekaan.

Sayang, di 67 tahun kemerdekaannya, tidak semua rakyat merasa bahwa mereka merasakan kemerdekaan mutlak, yang semestinya dimiliki sejak Indonesia merdeka. Banyak di antara mereka tidak bisa merasakan kemakmuran, tidak bisa makan kenyang atau sekadar tidur nyenyak.

Beberapa di antara mereka harus tetap hidup terpuruk dan lapar, meski tanahnya kaya dan subur. Ada juga mereka yang terpaksa tidur berbalut debu dan lumpur di kolong jembatan, meski di kanan kirinya berdiri kokoh bangunan-bangunan megah dan mewah.

Mereka tidak merasa menikmati hasil kemerdekaan yang diperjuangkan para pendahulunya. Bahkan, mereka mengaku tidak merdeka dan merasa bahwa kemerdekaan hanyalah milik sebagian orang. Hal itu salah satunya diungkapkan Inah, seorang pemulung yang tinggal di Kampung Jembatan, Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur.

Nenek berusia 50 tahun ini mengeluhkan pahitnya hidup di negeri ini. Dalam keadaan sulit, ia harus berjuang memungut satu demi satu sampah di jalan yang ia anggap dapat menghasilkan.

Mulai dari botol atau gelas air mineral, barang-barang terbuat dari plastik dan logam, ia kumpulkan agar bisa dijual untuk makan. “Itu pun kalau cukup, terkadang tidak cukup. Nah, saya lapar di negara kaya raya ini, apa iya saya bisa bilang saya merasa merdeka,” keluh Inah.

Amarahnya semakin memuncak saat tempatnya bermukim habis dilalap api. Terlebih setelah beberapa hari peristiwa kebakaran yang menghanguskan rumah dan harta bendanya itu, ia tak mendapat solusi apa pun di mana ia akan tinggal dan bernaung.

“Sekarang saya nggak punya tempat tinggal lagi, hidup di kolong langit, hidup sengsara begini. Apa iya saya bisa merasa merdeka,” keluhnya lagi.

Inah berpendapat, selama puluhan tahun tinggal di Jakarta, tak sekalipun ia merasakan kemerdekaan itu. Ia beranggapan bahwa kemerdekaan hanyalah milik mereka yang berpenghasilan banyak dan memiliki jabatan di pemerintahan.

Kepahitan yang dijalani Inah pun dirasakan wanita paruh baya bernama Partini. Wanita yang juga berprofesi sebagai pemulung ini benar-benar tidak memiliki bangunan rumah untuk tinggal. Ia selama ini tinggal di kolong jembatan tertutup yang pengap, bahkan minim cahaya.

Layaknya tikus yang tinggal di selokan, ia menjadikan labirin gelap itu sebagai tempatnya bernaung. Selama tinggal di Jakarta, tak sedikit pun ia pernah merasakan hangatnya selimut dan kasur yang empuk.

Bagi Partini, kondisi hidup yang ia rasakan bukanlah harapan hidup yang ia damba-dambakan. “Ya paling tidak bisa makan tepat waktu, dan punya rumah yang layak. Lah saya tinggal di kolong gelap begini, hidup susah. Mau dibilang merdeka, ya saya sama sekali nggak merasa,” ucapnya.

Ia mengatakan, kondisi hidup yang dialaminya sangat jauh dari perhatian pemerintah. Karena itu, sampai saat ini, kemerdekaan tidak pernah ada, mengingat baginya kemerdekaan berarti kemakmuran bagi segenap rakyat Indonesia yang semestinya diwujudkan para pemimpinnya.

Penghuni kolong yang sama, Iskandar, mengungkapkan sisi lain dari keberadaannya di kolong tersebut. Ia mengungkapkan, sebelum tinggal di kolong tersebut ia mengontrak di sebuah rumah di kawasan Cawang.

Sayang rumah tersebut digusur karena alasan pembangunan. “Karena saya hanya berprofesi sebagai pemulung, penghasilan saya tidak cukup buat cari kontrakan lain. Sejak itu, selama puluhan tahun saya tinggal di kolong ini,” ujar kakek berusia 75 tahun ini.

Di usianya yang kian senja, sesekali ia masih tetap memulung dengan membawa gerobak ke sejumlah tempat di Jakarta Timur. Semua itu ia lakukan hanya untuk dapat makan dan terus bertahan hidup.

Kini, kesedihan ia rasakan, saat sejumlah petugas dari Pemprov DKI menyampaikan pesan ke sejumlah penghuni kolong tersebut bahwa mereka harus hengkang dari sana. “Dulu saya ke sini karena digusur, sekarang mau digusur lagi. Lah saya mau ke mana lagi, apa ini yang namanya merdeka,” ujarnya.

Menariknya, meski Iskandar hanyalah seorang pemulung, pengetahuannya cukup luas. Ia banyak bercerita mengenai perebutan kekuasaan di negeri ini yang menurutnya berjuang demi perut masing-masing, hingga lupa akan rakyatnya. “Saya kan dengar radio. Saya tahu banyak pejabat yang korupsi. Karena itu orang-orang seperti kami terus bertambah miskin dan terlupakan,” tuturnya.

Iskandar juga mengaku tahu bahwa sebenarnya pemerintah memiliki kewajiban untuk menyejahterakan rakyatnya.

Karena itu, dengan segala kesulitan hidup yang ia alami, ditambah dengan minimnya perhatian yang ia rasakan, ia mengatakan tak sedikit pun ia merasa merdeka. “Waktu saya kecil saya tahu Bung Karno membacakan proklamasi, kemerdekaan yang saya ingat hanya itu,” katanya.

Sumber : Sinar Harapan/ Jenda Munthe

Pelanggan Tetap Setia, Meski Hanya Penjahit Jalanan

 

 (SH/Jenda Munte)Menjadi penjahit merupakan pekerjaan mulia.

 

Meski berkacamata, cahaya remang malam tak membuat jemarinya kaku memasukkan ujung benang ke jarum di mesin jahit tua berwarna cokelat itu. Perlahan ia memasukkan kembali benang yang sebelumnya telah habis dari sebuah gulungan.

Setelah benang terpasang, tangan kanannya memutar roda mesin jahit di bagian atas seraya mengayuhkan perlahan kayuh mesin di kakinya. Jarum yang memaku di mesin itu pun sedikit demi sedikit merajut celana panjang hitam milik pelanggannya.

Begitulah pria bernama Dede Sanjaya ini terampil menjahit pakaian meski hanya dengan mesin jahit tua yang ia miliki sejak muda. Ya, terang saja, pria berusia 58 tahun ini mengaku sudah menggeluti usaha menjahit di pinggir jalan sejak 1974. Itu berarti sudah 38 tahun dia menggeluti dunianya sebagai penjahit pinggir jalan.

Sejak itu pula ia mempercayakan profesi penjahit jalanan menjadi satu-satunya profesinya hingga kini. Sejak lajang hingga kini beranak empat, profesi sebagai penjahit menemaninya melewati generasi ke generasi.

Pria yang akrab disapa Jaya ini mengaku awalnya membuka usaha menjahit jalanan di sekitar pinggir rel di kawasan kolong jalan layang menuju Rawamangun, Jakarta Timur.

Karena situasi di sana kurang nyaman, pada 1984 bersama beberapa teman seprofesinya, Jaya pun hijrah dari tempatnya itu ke pinggir jalan di Jl Bekasi Barat, tak jauh dari seberang Stasiun Jatinegara. Mulai saat itu, hingga kini ia menjadi penjahit pakaian untuk berbagai jenis kebutuhan pelanggannya.

Tak ada atap, tak ada dinding untuk dijadikan tempatnya berusaha. Mesin jahit tua milik Jaya hanya disandingkan begitu saja dengan kursi panjang yang ia dan pelanggannya gunakan untuk duduk. Meski begitu, Jaya mengaku usahanya ini adalah usaha manis yang menguntungkan. Terlebih saat belum terlalu banyak orang yang membuka usaha sejenis di kawasan tersebut.

“Dulu itu di sini penjahit tidak lebih dari lima. Semasa itu usaha saya ini sangat menguntungkan. Nah kalau sekarang jelas berbeda, lihat saja, penjahit seperti saya di sini ada puluhan,” ungkap Jaya.

Menurutnya, kawasan Jl Bekasi Barat mulai beranjak ramai semenjak 90-an. Perlahan satu per satu penjahit datang bersama mesin jahit miliknya dan membuka lapak di kawasan tersebut. “Mungkin orang-orang mulai sadar kalau usaha seperti ini cukup menguntungkan,” ungkapnya lagi.

Dipaparkan Jaya, sejak pertama kali berada di sana ia sudah dapat memiliki pemasukan tetap setiap harinya. Bahkan ia mengaku sebagian dana yang ia gunakan untuk menikah diperolehnya dari penghasilannya menjahit.

“Semasa saya menjahit dulu, saya masih lajang. Uang yang saya dapat dari sini juga saya pakai untuk menikah,” ucapnya. Ia menambahkan, sejak itu pula ia membiayai kehidupan istri dan anaknya dengan penghasilannya sebagai penjahit jalanan.

Semenjak usaha serupa dengannya kian bertambah banyak, perlahan penghasilannya pun berkurang. Bak cendawan di musim hujan, penjahit jalanan di sana terus mendirikan lapak di kawasan itu. Meski begitu ia tak pernah khawatir.

Ia tetap merasa rezeki sudah ada yang mengatur, karena itu ia tetap merespons positif setiap penjahit baru yang datang. Lagi pula, tambah Jaya, pelanggan setianya pun sudah cukup banyak, karena itu ia tidak pernah pulang dengan tangan hampa. Karena itu Jaya menjadi salah satu penjahit pertama yang paling lama bertahan di kawasan tersebut.

Menurut pengakuannya, dalam sehari ia bisa mengantongi uang antara Rp 100.000-200.000. Uang tersebut diperolehnya dari jasa menjahit pakaian ataupun sekadar memperbesar dan memperkecil ukuran pakaian.

Ia mengatakan, kini sudah jarang pelanggan datang untuk meminta dijahitkan bahan, karena itu setiap hari ia lebih banyak memberikan pelayanan pengecilan atau pembesaran ukuran pakaian, baik itu baju maupun celana.

Untuk jasa tersebut, Jaya mengaku tidak pernah mematok harga kepada pelanggannya. “Itu tergantung mereka, terserah mau kasih berapa. Biasanya sih kisaran antara Rp 5.000 hingga Rp 20.000, tapi itu terserah mereka saja,” tuturnya.

Ia menambahkan, pemasukan dari menjahit biasanya meningkat tajam saat beberapa hari menjelang Lebaran. Jika sedang beruntung ia bisa membawa pulang uang Rp 750.000 per harinya.

Bahkan menurutnya pada malam takbiran sekalipun ia membuka usaha menjahitnya. Ini karena pada hari tersebut pelanggannya meningkat sangat tajam. Ia mengungkapkan, untuk malam takbiran Agustus kemarin saja ia membawa pulang keuntungan bersih Rp 1.500.000. Karena itu ia mengatakan umumnya penjahit di sana tetap beroperasi di malam takbiran.

Meski dapat menghidupi anak istrinya, dan memberikan keuntungan lebih saat Lebaran tiba, Jaya mengaku kini usaha seperti ini terus didesak oleh adanya kemajuan ekonomi dan pembangunan. Ia mengatakan, saat ini telah berdiri sejumlah tempat, seperti butik, usaha garmen, dan sejumlah tempat perbelanjaan yang juga menjual pakaian jadi kepada pelanggannya.

“Bahkan selain tukang jahit jalanan sekarang juga sudah banyak penjahit keliling yang mendatangi rumah-rumah warga. Dulu mana ada yang seperti ini,” kata Jaya sedikit tersenyum. Kendati demikian, ia merasa yakin usahanya ini akan tetap bertahan meski desakan sejumlah pesaing modern terus memaksanya berhenti.

Hal senada diungkapkan penjahit lain bernama Yusuf yang mengaku adanya perbedaan drastis antara pemasukannya di era 90-an dengan pemasukannya kini. Menurutnya, selain bertambah banyaknya usaha serupa di kawasan tersebut, semakin berkembangnya pusat perbelanjaan pun turut memaksanya untu berhenti dan beralih ke jenis usaha lain.

Namun Yusuf mengaku tak mau menyerah. Senada dengan Jaya, Yusuf mengaku usaha menjadi penjahit jalanan tetap akan mampu bertahan dalam kondisi apa pun. “Karena itu, selama fisik saya mendukung, saya akan menjadi penjahit seperti ini. Lagi pula pelanggan saya akan tetap ke sini. Kalau pun mereka beli pakaian di luar sana, suatu saat mereka akan datang juga ke sini,” ucap Yusuf.

Keyakinan yang diungkapkan oleh Jaya dan Yusuf didukung oleh pengakuan sejumlah pelanggan yang mengaku puas dengan hasil kerja penjahit di sana. Hal itu salah satunya diungkapkan oleh Imran, yang mengaku sudah semenjak dua tahun lalu menjahitkan pakaiannya di kawasan ini.

“Saya tetap lebih senang ke sini daripada ke swalayan atau ke toko pakaian. Kan kalau di sini sudah pasti lebih murah, dan pakaian yang tadinya tidak bisa dipakai jadi bisa lagi,” jelas Imran.

Senada dengan Imran, Rere pun mengaku sudah cukup sering datang ke sana. “Kan pelanggannya sudah banyak, karena itu usaha ini tak pernah sepi pelanggan. Jadi meskipun zaman terus maju, tapi saya tetap percaya betul kalau usaha ini dapat terus bertahan,” ujar Rere.

 

Sumber : Sinar Harapan/ Jenda Munthe

Menjalin Asmara, Merekrut Kurir Narkoba

 (SH/Jenda Munte)
Sindikat narkotika internasional sering menggunakan perempuan sebagai kurir narkoba.

Air matanya tak berhenti mengalir di tengah isak tangis yang terputus-putus. Masker penutup wajah tak mampu menutupi kedua bola matanya yang lembap dan memerah.

“Saya tidak tahu kalau di koper itu ada narkoba. Sungguh saya tidak tahu. Saya dijebak, tolong saya,” ucap M, perempuan berusia sekitar 30 tahun itu, Selasa (2/10).

Ia tak henti menangis dan terus berulang-ulang mengiba bahwa dirinya tak bersalah. Ia hanya dijebak. Sebelumnya, M ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta pada 11 September 2012 karena membawa narkotika jenis sabu seberat 5.160,5 gram. Sejak itu pula ia mendekam di ruang tahanan Badan Narkotika Nasional (BNN), Jakarta Timur.

Tentu saja M berontak dan tak terima mengapa harus mendekam di balik jeruji penjara. Ia mengaku tidak terlibat dengan barang bukti sabu yang ditemukan di dalam kopernya. Koper itu dititipkan oleh saudara suaminya yang ada di India.

“Saya tahunya itu pakaian India. Saya sudah buka semua isi koper itu dan memang tidak ada narkobanya,” ungkap M, lagi-lagi dengan derai air mata.

Ia mengatakan baru tahu di dalam kopernya ada narkoba setelah petugas Bea Cukai di bandara membongkar koper yang dibawanya dan menemukan ada lapisan khusus di dalam koper untuk menyimpan sabu.

Ia terkejut bukan kepalang karena penemuan tersebut membuat dirinya menjadi tersangka pembawa barang haram.

Dengan lunglai, M pasrah mengikuti pemeriksaan tim penyidik. Perempuan itu juga mengaku tidak diberi sepeser pun uang untuk jasanya membawa koper tersebut. Ia sukarela membawanya karena orang yang menitipkan masih ada hubungan kekerabatan dengan dirinya.

“Memang saya sempat dijanjikan uang. Tapi nggak bilang jumlahnya berapa, saya hanya tahu mau mengantar saja. Saya juga mau menerima koper tersebut karena orang yang menitipkan koper itu masih saudara sama suami saya,” paparnya. Tangisnya belum juga berhenti.

Sayangnya, nasi telah jadi bubur. Derai air matanya tak akan mudah melepasnya dari ancaman hukuman penjara. Kini M hanya bisa menunggu hingga proses persidangannya dijalankan dan hukuman ditetapkan.

Kepedihan hatinya makin terasa karena suaminya yang mengetahui dirinya ditahan belum pernah sekalipun menemuinya di tahanan sekadar untuk memberikan penguatan. Ia benar-benar ketakutan dalam kesendirian, menanti apa hukuman yang akan dijatuhkan oleh pengadilan.

Tangis duka lara juga dialami perempuan berinisial YPD. Ia ditahan setelah terbukti membawa dan menyimpan narkotika jenis sabu pada Agustus 2012. Saat ditangkap, ibu beranak satu ini memang sedang membawa sabu dalam 42 kapsul seberat 536,8 gram. Setelah petugas menggeledah rumahnya di kawasan Citayam, Depok, ditemukan pula 55 kapsul sabu dengan berat 713,8 gram.

Sama seperti M, YPD juga menguraikan kepedihan hatinya. Ia mengaku dijebak dan tidak mengetahui kapsul yang diterimanya dari seseorang berkewarganegaraan Afrika itu adalah narkotika. Ia hanya diberitahu kapsul-kapsul tersebut berisi berlian.

“Orang itu bilang bahwa kapsul-kapsul itu berisi barang yang sangat berharga, yakni berlian. Katanya barang itu harus diantar kepada pemesannya sesuai waktu yang ditentukan. Sungguh, saya tidak tahu itu narkoba,” ucap YPD. Suaranya terdengar parau.

Entah pengakuan seperti ini jadi alasan klise yang selalu diucapkan para kurir narkoba atau memang benar mereka dijebak. Sama seperti M, YPD pun mengaku tidak dibayar untuk mengantarkan narkoba tersebut. “Saya ngikut aja. Tapi saya memang nggak tahu itu narkoba. Kalau saya tahu, saya nggak mau. Tolong saya, saya dijebak,” katanya memelas.

YPD menambahkan, orang yang menjebak adalah bosnya sendiri, yang hingga kini masih dicari di mana keberadaannya.

Menjerat Perempuan

Ditemui usai acara pemusnahan barang bukti sabu di pelataran parkir kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (2/10), Kepala Bagian Humas BNN Komisaris Besar Sumirat menjelaskan pengakuan dijebak dan tidak mengetahui barang yang dibawa merupakan modus lama yang sering diungkapkan oleh para kurir narkoba. Karena itu, apa pun yang dikatakan tersangka narkoba harus dibuktikan di pengadilan nanti.

“Kalau dia mengaku dijebak dan tidak tahu barang yang dibawanya adalah narkoba, itu harus dibuktikan. Siapa yang tahu bahwa dia benar-benar dijebak? Itu kan bisa saja sekadar dalih,” tuturnya.

Pastinya, jika di pengadilan nanti M dan YPD terbukti bersalah karena membawa narkoba, dapat diancam dengan Pasal 114 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman antara 4-12 tahun penjara.

Sumirat mengatakan sindikat narkotika internasional memang sering kali menggunakan perempuan untuk dijadikan sebagai kurir narkoba. Hal ini memang lebih mudah dilakukan mengingat perempuan dianggap tidak terlalu dicurigai untuk melakukan tindak kriminal. Selain itu, perempuan lebih mudah dipengaruhi secara psikologis termasuk diiming-imingi materi.

“Sindikat ini mencari istri-istri yang ditinggal suaminya dan yang kebingungan mencari uang untuk anaknya. Sindikat itu bisa menawarkan uang dalam jumlah besar dalam tempo singkat. Ini dianggap menggiurkan,” papar Sumirat.

Modus lain yang digunakan para sindikat pengedar narkoba adalah memanfaatkan emosi atau perasaan perempuan yang akan direkrut menjadi kurir. Caranya, antara lain mereka menjalin hubungan asmara dan menjanjikan kehidupan yang lebih layak atau bahkan kemudian menikahi perempuan tersebut.

Setelah yakin perempuan tersebut terpikat dan bersedia melakukan apa saja untuk lelaki itu, sang lelaki mulai memintanya untuk menyimpan ataupun mengantarkan barang yang tak lain adalah narkotika.

“Berdasarkan pengalaman kita, hal ini sering terjadi. Memang mereka yang tertangkap bermain di lapangan sebagian besar adalah perempuan,” ungkapnya.

Karena itu, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk antisipasi adalah selalu waspada dan tidak mudah percaya pada orang-orang yang baru dikenal. Sebaiknya dipastikan terlebih dahulu apa latar belakang orang-orang yang ketika baru dikenal sudah memberikan janji-janji menggiurkan.

“Selain itu ada baiknya menolak titipan barang yang diberikan orang lain, meskipun yang menitipkan adalah orang yang kita kenal sekalipun,” Sumirat mengingatkan.

Wakil Ketua Komnas Perempuan Desti Murdijana yang dihubungi SH, Rabu (3/10) pagi, mengemukakan secara umum perempuan belum punya posisi tawar di masyarakat karena faktor pendidikan, serta tidak dibiasakan untuk bersikap kritis dan mengambil keputusan dengan tepat.

Dalam hal ini, masalah ekonomi menjadi faktor kuat. Di daerah-daerah, perempuan hanya sekolah sampai tingkat sekolah dasar (SD), lalu hanya disuruh tinggal di rumah.

Maka perempuan mudah terjebak pada situasi yang tidak mereka ketahui. “Ada yang sangsi, masak sih mereka tidak tahu kan sudah dewasa?! Tapi ingat, banyak perempuan hanya dibesarkan di dunia domestik, dan ketika keluar rumah tidak bisa berpikir kritis dan memilih dengan tepat. Ini jadi masalah yang cukup besar,” lanjutnya.

Menurut Desti, tidak sedikit perempuan yang dipacari dulu oleh pelaku sindikat narkoba, lalu disuruh membawa narkoba dari satu tempat ke tempat lain. Keadaan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara maju. Perempuan memang rentan menjadi korban karena ketidakberdayaan dan ketidakmampuannya, Desti menambahkan. (Wahyu Dramastuti)

 

Sumber : Sinar Harapan (Jenda Munthe)

link: http://www.shnews.co/detile-8777-menjalin-asmara-merekrut-kurir-narkoba.html

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.